Terlalu Lama Sendiri …

“Sudah terlalu lama sendiri

Sudah terlalu lama aku asyik sendiri

Lama tak ada yang menemani, rasanya”

(Kunto Aji, Terlalu lama Sendiri)

 

Kutipan lagu di atas mungkin terasa lebih familiar untuk beberapa individu. Meskipun tidak sama persis, beberapa individu pada suatu periode memang memilih untuk tidak memiliki pasangan. Alasan individu tersebut bermacam-macam, seperti baru saja keluar dari sebuah hubungan yang cukup berkesan, sedang menikmati waktu bersama keluarga, atau memang belum merasa benar-benar cocok dengan calon pasangan saat ini.

 

Pada kehidupan sehari-hari, individu dengan hubungan romantis yang sehat terbukti memiliki beberapa kelebihan. Individu tersebut memiliki risiko yang lebih kecil untuk mengalami sakit maupun mengalami gangguan psikologis. Namun demikian, beberapa individu memang tetap memilih untuk tidak memiliki pasangan.

 

Disadari atau tidak, banyak individu yang merasa takut untuk berada dalam sebuah hubungan. Meskipun dikatakan ketakutan tersebut dapat melindungi individu dari perasaan tidak menyenangkan di masa yang akan datang, ketakutan tersebut tentu dapat mencegah individu untuk lebih bahagia. Beberapa penjelasan kemudian diberikan untuk mengetahui serta meminimalisir efek negatif ketakutan tersebut.

 

  • Beberapa individu pada dasarnya memiliki permasalahan yang mengakar. Individu tersebut biasanya memiliki perasaan kurang berharga dan merasa tidak layak untuk mendapatkan kasih sayang. Seiring waktu, perasaan tersebut dapat semakin terinternalisasi. Ketika orang lain melihat/memperlakukan/memberikan kasih sayang, perlakuan tersebut justru membuat individu yang merasa kurang berharga melihat dirinya sendiri secara berbeda. Perbedaan tersebut kemudian membuatnya seakan-akan kehilangan identitas diri yang dimiliki selama ini. Adapun kemudian perbedaan tersebut menimbulkan perasaan takut yang menyebabkan individu mengakhiri hubungan yang ada.

 

  • Pada individu lainnya, perasaan enggan menjalin hubungan dapat diakibatkan hubungan di masa lalu yang buruk. Pengalaman tersebut kemudian dapat membuat individu lebih berhati-hati membuka diri. Hal tersebut dilakukan untuk menghindarkan individu merasakan kembali perasaan sedih, kehilangan, marah, ataupun penolakan sebagaimana yang dirasakan di masa lalu.

 

  • Alasan lain yang banyak dikemukakan individu adalah calon pasangan dikatakan terlalu menyukai atau terlalu menyayangi. Hal yang dikhawatirkan adalah apabila hubungan tersebut diteruskan, perasaan yang dimiliki tidak akan seimbang/menyamai calon pasangannya.

 

Satu hal yang perlu diketahui adalah perasaan yang dimiliki pasangan bersifat dinamis, tidak selalu seimbang antar pasangan serta tidak stabil dari waktu ke waktu. Terlalu khawatir akan perbedaan perasaan yang dimiliki saat ini justru dikatakan dapat menghalangi berkembangnya perasaan suka atapun sayang yang dimiliki. Namun demikian, agar pasangan (atau calon pasangan) tersebut saling terbuka tentang perasaannya satu sama lain.

 

  • Hal lain adalah pada beberapa individu yang berada pada tahap awal sebuah hubungan, mempercayai dan memberikan orang lain ‘akses’ untuk mempengaruhi kebahagiaan bukanlah hal yang mudah. Memberikan akses tersebut seakan-akan dapat membuat individu kehilangan kontrol akan kebahagiaan dirinya. Kehilangan kontrol tersebut kemudian membuat individu merasa rapuh. Perasaan rapuh tersebut akan semakin besar apabila individu merasa semakin ‘bergantung’ kepada pasangan untuk membuat dirinya bahagia.

 

Hal yang unik adalah pada individu yang kemudian memilih menjalin hubungan pun, individu tersebut menghindari jatuh cinta secara penuh. Hal tersebut dilakukan karena adanya pandangan bahwa semakin sayang individu terhadap pasangannya, maka perasaan sedih yang dirasakan akan semakin besar apabila hubungan tersebut berakhir. Tidak hanya itu, dengan adanya hubungan dalam hidupnya, individu dikatakan memiliki tambahan makna kehidupan. Untuk menutupi ketakutan akan kehilangan pasangan atau makna hidup, secara tidak sadar individu akan melakukan beberapa hal seperti mencari-cari kesalahan hingga meninggalkan hubungan.

 

Seperti yang disampaikan pada awal tulisan, individu tentu memiliki alasannya sendiri untuk tidak memiliki pasangan. Namun demikian, dengan mengetahui lebih banyak alasan mengapa individu memilih untuk tidak berpasangan diharapkan individu tersebut lebih siap dan lebih bahagia ketika menjalin hubungan di masa yang akan datang.

 

 

Sumber:

Alperin, R.M. 2001. Barriers to intimacy, an object relations perpective. Psychoanalytic Psychology Copyright 2001 by the Educational Publishing Foundation 2001, Vol. 18, No. 1, 137-156.

 

Firestone, L. 2014. 7 Reasons most people are afraid of love. Diambil secara online dari http://www.psychologytoday.com/blog/compassion-matters/201401/7-reasons-most-people-are-afraid-love?tr=MostViewed pada tanggal 20 Januari 2014.

Gambar diambil di sini