Selingkuh (yuuk)

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat status updates seorang teman di salah satu situs sosial yang bertuliskan:

“Dasar tukang selingkuh, whatsapp-an aja terus”

Di sisi lain, Anda tentu pernah mendengar berita tentang individu yang menangkap basah pasangannya dengan selingkuhannya.

Dua cerita yang tidak terkait satu dengan lainnya tersebut memiliki sebuah kesamaan, yaitu selingkuh (di luar dari benar atau tidaknya berita). Meskipun demikian, selingkuh yang dikatakan teman saya melalui situs sosial dan selingkuh yang dialami oleh individu di atas memiliki bentuk yang tidak sama. Jika yang pertama dikatakan selingkuh dengan chat, yang kedua dikatakan selingkuh dengan langsung (face-to-face). Kedua hal tersebut membuat saya berpikir kembali mengenai perselingkuhan itu sendiri, menurut situs KBBI dalam jaringan, selingkuh adalah:

suka menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri; tidak berterus terang; tidak jujur; curang; serong; 2 suka menggelapkan uang; korup; 3 suka menyeleweng;

Berdasarkan definisi tersebut maka chat ataupun langsung dapat disamaratakan dengan selingkuh.

Pada masa perkuliahan, saya mengingat sebuah materi yang membahas tentang perselingkuhan. Karena tidak lagi menemukan bahan materi tersebut, saya menemukan artikel yang isinya tidak jauh berbeda dengan materi kuliah dulu. Artikel tersebut menjelaskan berbagai macam jenis perselingkuhan. Menurut artikel tersebut, selingkuh dapat dikategorikan menjadi empat jenis:

Yang pertama adalah object affair atau selingkuh terhadap objek. Hal ini terjadi saat salah satu dari pasangan lebih memprioritaskan sesuatu di luar hubungan tanpa persetujuan pasangan lainnya. Hal tersebut dapat berupa karir, hobi, ataupun aktivitas lain.

Jenis perselingkuhan yang kedua adalah physical affair atau selingkuh secara fisik. Jenis perselingkuhan ini minim keintiman seperti hubungan sebenarnya. Selain itu biasanya jenis perselingkuhan ini lebih banyak dilakukan karena ingin memenuhi kebutuhan dan dorongan secara fisik untuk memenuhi hasrat.

Jenis perselingkuhan yang ketiga adalah emotional affair atau selingkuh emosional. Perselingkuhan jenis ini biasanya ditandai dengan hubungan romantis yang dilakukan secara kongkrit, Meskipun demikian, karena keterbatasan hubungan itu sendiri maka wujud dari romantisme yang ada dilakukan melalui sms, email, dan media lainnya. Penjelasan tambahan tentang perselingkuhan ini dapat dilihat melalui beberapa ciri seperti:

• Berdiskusi tentang pasangan terhadap “pasangan selingkuh”. Berdiskusi tentang ketakutan, harapan, mimpi, dsb.
• Bertemu “pasangan selingkuh” tanpa memberi tahu pasangan
• Menjaga computer, handphone dari pasangan agar tidak ketahuan
• Merahasiakan kehidupan terhadap “pasangan selingkuh” agar tidak tertangkap sudah memiliki pasangan
• Tetap berhubungan dengan mantan kekasih, karena biasanya selingkuh emosional dilakukan terhadap orang yang pernah dekat seperti mantan kekasih.

 

Jenis perselingkuhan yang keempat, adalah secondary relationship atau hubungan kedua. Dibandingkan jenis perselingkuhan lain, jenis perselingkuhan ini dapat dikatakan lebih lengkap karena memiliki aspek sosial, keintiman, seksual yang ada pada hubungan sebenarnya. Individu yang melakukan jenis perselingkuhan ini memiliki kegiatan, kebiasaan, ekspektasi yang dimiliki pasangan kekasih yang ‘sah’. Meskipun demikian, satu atau dua pihak mengetahui atau menyetujui bahwa hubungan yang dijalani tidak dapat atau tidak akan mengganti hubungan yang ‘sah’. Melihat aspek yang ada di hubungan kedua ini, maka tidak menutup kemungkinan bahwa selingkuh terhadap objek, selingkuh secara fisik maupun emosional dapat berubah menjadi hubungan kedua.

Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa hubungan kedua dapat menjadi motivasi untuk menghidupkan kembali hubungan yang ‘sah’. Menurutnya, jika kembali pada alasan untuk melakukan selingkuh adalah tidak terpenuhinya kebutuhan melalui pasangan yang ‘sah’, maka kita menemukan kebutuhan tersebut terpenuhi oleh pasangan selingkuh.

Melalui proses perbandingan yang dilakukan terhadap hubungan yang sah dan hubungan selingkuh, dapat mengembalikan kita ke posisi untuk melihat apa yang kurang atau tidak dapat dilihat sebelumnya pada hubungan yang sah tersebut. Pada akhirnya hal tersebut akan membantu kita untuk menemukan apa yang sebenarnya kita butuhkan dari sebuah hubungan.

 

Nova Ariyanto Jono
Sumber:
– Formica, J. M. (2009). The Extra-Relational Affair: A Study in Contrast. Diambil online pada http://www.psychologytoday.com/blog/enlightened-living/200901/the-extra-relational-affair-study-in-contrast tanggal 21 Juni 2009.
– KBBI dalam jaringan http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
– Pawlik-Kienlen, L. (2007). What is Emotional Cheating?. Diambil online pada http://psychology.suite101.com/article.cfm/emotional_cheating tanggal 21 June 2009.