Tahapan Kesedihan

Semua dari kita tentu pernah merasakan kehilangan. Kehilangan, apapun bentuknya, tentu menimbulkan kesedihan. Reaksi yang dialami oleh setiap individu juga tidak selalu sama ketika menghadapi kehilangan. Beberapa ahli psikologi kemudian mencoba menjelaskan proses kehilangan yang dialami oleh individu. Salah satu teori yang cukup populer dikemukakan oleh Kubler-Ross. Dijelaskan bahwa proses yang dilalui oleh individu adalah sebagai berikut:

 

Denial

Mempertimbangkan bahwa kehilangan merupakan suatu hal yang sulit diterima, maka reaksi pertama yang muncul adalah penyangkalan. Pada tahap ini, individu mencoba untuk menghindari kenyataan yang terjadi dengan memunculkan bahwa yang terjadi saat ini hanyalah fantasi. Semua hal yang terjadi, kehilangan yang dirasakan tidaklah terjadi.

Anger

Setelah menyadari bahwa semua hal yang terjadi bukanlah fantasi. Individu kemudian merasa marah. Marah kepada situasi, Tuhan, orang/pihak lain, ataupun marah kepada diri sendiri. Individu akan marah kepada yang dianggap menyebabkan terjadinya kehilangan.

 

Bargaining

Pada tahap ini, individu akan mencoba melakukan negosiasi agar situasi kembali seperti dulu. Individu akan mencoba melakukan negosiasi kepada ‘dunia’ agar semua yang terjadi dapat ditarik kembali dan kemudian segala sesuatu menjadi seperti sedia kala. Kalimat-kalimat yang umum diutarakan oleh individu pada tahap ini adalah:

“Saya akan melakukan apa aja agar semuanya kembali seperti dahulu”

“Saya akan mengorbankan semuanya …”

 

Perlu diketahui bahwa negosiasi tidak akan memberikan dampak apa pun terhadap situasi yang sedang dialami individu. Adapun kemudian, individu akan kembali pada tahap sebelumnya, yaitu marah atau penyangkalan, atau mungkin ke tahap selanjutnya, yaitu depresi.

 

Depression

Setelah mengalami kehilangan, individu merasa bahwa hidupnya menjadi tidak lagi berarti. Hal-hal apapun menjadi tidak penting lagi bagi individu. Individu menjadi depresi. Individu lebih pendiam, menolak untuk bersosialisasi dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu untuk menangis dan bersedih. Merasakan penyesalan dan ketakutan (bagaimana menjalani hidup) pada tahap ini adalah suatu hal yang wajar. Dijelaskan bahwa memiliki perasaan-perasaan tersebut menunjukkan bahwa individu telah sedikit menerima keadaan yang ada. Ketika individu akhirnya menerima keadaan, maka individu dapat menuju tahap selanjutnya, yaitu:

 

Acceptance

Pada tahap ini individu dikatakan telah menerima kenyataan dan berdamai dengan perasaan kehilangan. Menerima keadaan dapat berarti merelakan kehilangan dan perlahan terus melanjutkan hidup secara perlahan. Adapun proses menerima kenyataan tersebut terjadi melalui proses secara bertahap.

 

Satu hal yang perlu diketahui adalah kelima tahapan di atas dapat terjadi secara acak. Dengan kata lain, tahapan yang dilalui dapat berbeda-beda pada setiap individu. Individu dapat berada pada tahap marah tanpa berada pada tahap penyangkalan. Adapun individu lain dapat berada pada tahapan negosiasi dan penyangkalan pada saat yang bersamaan, untuk kemudian akan berada pada tahap marah. Untuk individu yang telah berada pada tahap menerima pun dapat kembali pada tahap marah apabila muncul pemicu spesifik yang mengingatkan individu pada perasaan kehilangan. Perbedaan-perbedaan tersebut terjadi dipengaruhi beberapa hal, seperti keadaan masing-masing individu maupun tersedianya dukungan sosial.

 

Bentuk-bentuk dukungan sosial dapat berupa: (1) Emotional / esteem support berupa ekspresi empati, peduli dan perhatian yang mengarah pada individu. Dukungan emosional memberikan individu perasaan nyaman, tenang, memiliki, dan dicintai ketika berada dalam situasi stres; (2) Tangible assistance atau instrumental support berupa memberi dukungan materi seperti pelayanan, asisten finansial, barang-barang, meminjamkan uang, atau membantu tugas sehari-hari; (3) Informational support berupa memberikan nasihat, petunjuk, saran, dan masukan mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh individu yang bersangkutan; (4) Companionship support berupa keberadaan seseorang untuk menghabiskan waktu dan memberikan perasaan sebagai bagian dari kelompok tertentu, dimana terdapat kesamaan minat dan kegiatan sosial.

 

Penelitian menunjukkan bahwa metode yang digunakan individu untuk mengatasi perasaan kehilangan pada dasarnya dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya. Namun demikian, hal yang umum dirasakan oleh individu setelah kehilangan adalah perasaan kehilangan kontrol akan dirinya. Kontrol tersebut dijelaskan mampu meningkatkan kemampuan mengatasi masalah serta kebahagiaan. Oleh karena individu disarankan untuk berperilaku yang membuat dirinya merasa mampu mengontrol hidupnya kembali.

 

 

 

Sumber:

Ardillah, A. Wawancara dengan Psikolog. 6 Mei 2014.

Kromberg, J. 2013. The 5 Stages of Grieving the End of a Relationship. Diambil secara online dari http://www.psychologytoday.com/blog/inside-out/201309/the-5-stages-grieving-the-end-relationship pada tanggal 6 April 2014.

Norton, M.I., & Gino, F. 2014. Rituals Alleviate Grieving for Loved Ones, Lovers, and Lotteries. Journal of Experimental Psychology: General © 2013 American Psychological Association 2014, Vol. 143, No. 1, 266–272

Taylor, S.E. 2003. Health Psychology. 5th Ed. New York: Mc-Graw-Hill.

Gambar diambil di sini