Psikologi Olahraga

Anda tentu mengenal pelajar yang juga aktif berolahraga. Bahkan karena kemampuan olahraganya tersebut, individu tersebut memperoleh beasiswa dan berpotensi menjadi atlit professional. Para pelajar ataupun mahasiswa yang juga aktif berolahraga biasanya disebut dengan student athlete. Selain berbakat di bidang olahraga tertentu serta memiliki rasa kompetitif yang tinggi, mereka juga menyiapkan pendidikan dan karir melalui pengembangan aspek sosial, fisik, mental, serta intelektual.

Berbagai kompetisi diadakan di Indonesia untuk mengasah bakat para student athlete tersebut, mulai dari tingkat SMP, SMA, sampai Perguruan Tinggi. Cabang olahraga yang dipertandingkan pun beragam, mulai dari bola basket, sepak bola, dan juga futsal. Tentu saja kita semua mengetahui bahwa selain kemampuan atau skill, aspek fisik dan mental juga berperan penting dalam sebuah pertandingan.

Namun seperti apa peran ilmu psikologi di dalamnya? Menurut penelitian, untuk mencapai hasil maksimal dalam sebuah pertandingan atau kompetisi diperlukan beberapa komponen yang tersusun dan berkaitan satu dengan lainnya. Berikut adalah gambar yang kemudian diikuti oleh penjelasan masing-masing bagiannya.

Sebelum membahas lebih dalam mengenai komponen-komponen tersebut, peneliti menjelaskan terlebih dahulu bahwa komponen motivasi dan kepercayaan diri lebih berpengaruh pada tahap persiapan sebelum berlatih dan bertanding, sedangkan komponen kekuatan/daya tahan, fokus, dan emosi berpengaruh lebih besar pada performa saat latihan dan bertanding.

 

Motivasi. Pada kenyataannya, motivasi seseorang untuk menjalani sebuah pertandingan tidak sama satu dengan lainnya dan tidak sama dari waktu ke waktu. Individu yang pada awalnya hanya ingin bersenang-senang dan mencari pengalaman bisa saja pada akhirnya memiliki motivasi untuk berprestasi dan begitu juga sebaliknya. Tanpa adanya motivasi dalam mencapai prestasi, maka aspek fisik, teknik, dan rasa kebersamaan dalam tim akan berkurang yang juga akan berdampak pada performa seseorang secara keseluruhan. Penelitian menemukan bahwa individu yang bermain di Divisi I sebuah kompetisi memiliki motivasi yang lebih tinggi dibanding mereka yang bermain di Divisi III dalam kompetisi yang sama. Ia menjelaskan bahwa individu di Divisi I bertanding dan berkompetisi untuk menang, sedangkan di Divisi yang lebih rendah, mereka bermain hanya untuk mencari teman. Dengan mengetahui motivasi seperti apa yang kita miliki, akan membantu kita mengatasi rasa lelah, sakit, kemunduran, serta frustasi yang muncul dalam setiap latihan serta pertandingan.

 

Kepercayaan diri. Memiliki kemampuan atau skill yang hebat tidak langsung membuat kita menjadi individu yang terbaik. Tidak jarang kita dengar istilah “Kalah sebelum bertanding”, dan hal tersebut disebabkan oleh kurangnya kepercayaan diri kita. Tanpa memiliki kepercayaan diri, individu tidak akan mampu menggunakan kemampuannya secara maksimal. Seperti kemampuan mental lainnya, kepercayaan diri tidak muncul dengan sendirinya. Dibutuhkan latihan melalui persiapan pertandingan yang matang, kemampuan bangkit dari kekalahan, serta dukungan dari lingkungan. Tentu saja tingginya frekuensi perolehan kemenangan akan banyak meningkatkan kepercayaan diri.

 

Kekuatan/Daya tahan. Setelah kompetisi berjalan, kekuatan/daya tahan merupakan kontributor  utama. Tanpa memiliki daya tahan yang prima, performa akan menurun dengan sendirinya. Dalam berolahraga, performa akan berada pada puncaknya saat tubuh berada di antara kontinum tubuh sangat rileks (seperti saat tidur) dan tubuh sangat tegang (saat ketakutan). Untuk menggambarkannya dengan lebih mudah, maka istilah yang selama ini kita dengar seperti istirahat dan tidur cukup memang berpengaruh secara signifikan dalam persiapan berkompetisi.

 

Fokus. Fokus melibatkan kemampuan berkonsentrasi pada beberapa hal, seperti 1.) konsentrasi pada hal yang membuat kita menampilkan performa terbaik (contoh: mengingat kerasnya latihan yang selama ini telah dijalani akan sia-sia jika kalah), 2.) mempertahankan konsentrasi saat situasi pertandingan berubah (contoh: awalnya memimpin kemudian lawan balik memimpin), dan 3.) tidak menghiraukan gangguan-gangguan yang muncul di sekitar lapangan pertandingan (contoh: suara penonton).  Kemampuan untuk terus fokus setelah periode waktu yang panjang merupakan hal penting dalam sebuah pertandingan.

 

Emosi. Olahraga mencakup beberapa ragam emosi. Inspirasi, kebanggaan, kepuasan, kebahagiaan, ketakutan, frustrasi, kemarahan, dan keputus-asaan. Komponen emosi berada pada puncak karena emosi merupakan komponen yang akan menentukan kemampuan individu untuk menampuikan performa yang konsisten pada situasi yang paling sulit sekalipun. Emosi juga merupakan kontributor utama pada kemampuan individu untuk menjadi pemimpin atau menjadi anggota tim. Dengan menguasai kemampuan mengontrol emosi, akan memfasilitasi penampilan individu dan tim untuk mencapai hasil yang maksimal. Sebagai contoh, meskipun mengalami kelelahan dan menurunnya fokus pada pertandingan, rasa semangat dan ketakutan akan kekalahan mampu memberikan individu tambahan energi, stamina, yang juga akan berpengaruh pada fokus dan meningkatnya performa.

 

Dengan mengetahui komponen-komponen di atas, diharapkan di masa yang akan datang individu mampu mempersiapkan diri lebih baik, secara fisik maupun psikologis, sehingga mampu mencapai hasil maksimal bagi individu maupun keseluruhan tim.

 

Nova Ariyanto JoNo

 

Sumber:
Tauer, J. (2009). Division III Athletics: Where athletes play to win, play for fun, and are true student-athletes. Diambil dari  http://www.psychologytoday.com/blog/goal-posts/200910/division-iii-athletics-where-athletes-play-win-play-fun-and-are-true-student- tanggal 29 Oktober 2009   
Taylor, J. (2009). Prime sport pyramid. Diambil dari http://www.psychologytoday.com/blog/the-power-prime/200909/sports-prime-sport-pyramid tanggal 29 Oktober 2009