Psikologi, Agama, dan Kesehatan

Beberapa pembaca mungkin pernah berada dalam keadaan sakit, atau menjaga/menjenguk orang yang sedang sakit. Saat itu, pernahkah anda mendengar kalimat seperti:

“Sabaaar.. banyak berdoa yaaa, biar cepat sembuuuh”

Jujur saja, saya termasuk yang pernah mendengar perkataan seperti itu. Agama / kepercayaan memang sering dikatakan dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan seseorang (dalam hal ini, kesehatan). Tertarik dengan fenomena seputar agama, kesehatan, dan psikologi tentunya, saya berusaha menemukan beberapa penjelasan ketiga hal tersebut berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan.

 

Sebelum membahas lebih lanjut, definisi dari agama yang digunakan adalah kognisi (pikiran), afeksi (perasaan), serta tingkah laku yang muncul dari kesadaran atau interaksi dengan unsur supratural yang dianggap memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Unsur psikologis yang terkait dengan agama adalah: 1) kepercayaan akan adanya Tuhan (atau unsur lain) yang mempengaruhi kehidupan; 2) Tingkat kualitas dalam melakukan aktivitas agama (contoh: frekuensi berdoa, penghayatan dalam berdoa); 3) tingkat komitmen dalam beragama.

 

Beberapa penelitian telah dilakukan di AS, Denmark, Finlandia, serta Taiwan untuk melihat hubungan antara agama kesehatan, serta psikologi. Dari penelitian tersebut diperoleh hasil bahwa 25 – 30 % individu yang aktif beragama memiliki usia yang lebih panjang. Keaktifan beragama diukur melalui berbagai cara, antara lain mengukur tingkat kepercayaan pada agama, frekuensi kunjungan (keikutsertaan) di rumah ibadah, maupun keterlibatan dalam beribadah (salat, berdoa, membaca kitab suci). Tidak hanya itu, individu remaja maupun dewasa (dengan latar belakang berbagai agama) dengan tingkat religiusitas yang tinggi juga lebih tidak menyukai minum-minuman keras atau rokok, serta lebih menunda melakukan aktivitas seksual. Mereka juga lebih sering menggunakan seat-belt, berkunjung kedokter gigi, serta minum vitamin dibanding mereka yang memiliki tingkat religiusitas lebih rendah.

 

Agama juga memiliki peran yang signifikan dalam berbagai tahap perkembangan. Untuk remaja, dikatakan bahwa remaja yang religius cendrung memiliki nilai yang lebih baik di sekolah. Untuk yang sudah menikah, pasangan yang religius juga memiliki periode menikah yang lebih lama. Tidak hanya itu, tingkat kepuasan pernikahan, serta level komitmen mereka juga lebih baik dibanding pasangan yang tidak religius.

 

Hasil penelitian yang dilakukan selama dua dekade juga menyimpulkan bahwa agama memiliki kaitan dengan kesejahteraan psikologis. Individu dengan konsep agama yang positif memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk mengalami depresi. Tidak hanya kesejahteraan psikologis, individu juga akan memiliki nilai positif terhadap dirinya sendiri, sehingga ia akan merasa lebih bahagia dalam menjalani kesehariannya.        Penjelasan lain mengemukakan bahwa dengan berdoa mampu mengaruhi keadaan pikiran. Keadaan pikiran tersebut tentu juga mempengaruhi keadaan tubuh kita. Dengan berdoa, keadaan pikiran akan menjadi tenang, sehingga tubuh juga menjadi rileks, kedua hal tersebut akan mengurangi kecemasan, menurunkan tekanan darah, menstabilkan pola tidur serta melancarkan proses pernafasan serta pencernaan. Lebih lanjut juga dijelaskan bahwa berdoa mampu mempengaruhi pola pikir serta pola tingkah laku sehari-hari.

 

Agama juga membantu self-regulation yang berarti penanaman ‘peraturan-peraturan’ tertentu dalam kehidupan individu. Dilihat dari sudut pandang psikologi, self-regulation akan membuat individu bertingkah laku sesuai dengan aturan-aturan atau tujuan yang ingin dicapainya tersebut. Oleh karena itu, jika kembali dikaitkan dengan hubungannya dengan kesehatan, agama (agama apapun) akan memberikan berbagai aturan untuk menjalani hidup yang sehat. Dengan penanaman aturan-aturan tersebut, individu dengan tingkat religiusitas yang baik akan lebih mampu mengontrol dirinya dalam menjalankan peraturan tersebut. Bentuk-bentuk control diri tersebut telah diberikan sebelumnya, seperti tidak merokok, minum-minuman keras dsb. Kesimpulannya, bentuk control inilah yang diperkirakan membantu individu yang religius memiliki hidup yang lebih sehat serta memiliki umur yang lebih panjang.

 

Hasil penelitian yang telah dijelaskan diatas diharapkan mampu memberi gambaran hubungan antara agama, kesehatan, serta psikologi. Namun demikian, pada akhirnya merupakan pilihan masing-masing individu untuk memilih, menjalankan, agama / kepercayaan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Nova Ariyanto Jono

 

Sumber:

McCullough, M.E., & Willoughby, B.L. 2009. Religion, Self-Regulation, and Self-Control: Associations, Explanations, and Implications. Psychological Bulletin 2009, Vol. 135, No. 1, 69–93.

 

Formica, M.J. 2010. The Science, Psychology and Metaphysics of Prayer. Diambil dari http://www.psychologytoday.com/blog/enlightened-living/201007/the-science-psychology-and-metaphysics-prayer pada 16 Agustus 2010.

Gambar diambil di sini