Pacaran dan Perilaku Seksual

“’Naaak, kalo pacaran jangan lama-lama .. “

Pernah mendengar anjuran seperti di atas? Atau mungkin pernah mendengar anjuran lain yang tidak terlalu jauh berbeda, seperti:

“Naak, kan udah pacaran lama, buruan nikah”

Mungkin di satu sisi, kita akan berpikir bahwa untuk mempersiapkan diri menuju jenjang perkawinan tentunya bukan perkara mudah, tapi mungkin dua anjuran atau wejangan di atas ada benarnya.

 

Jika dilihat dari definisi pacaran itu sendiri, pacaran merupakan hubungan lawan jenis secara permanen yang dirasakan nyaman, disukai, dan berkemungkinan untuk dilanjutkan kearah pernikahan. Meskipun memiliki banyak fungsi, pacaran pada rentang usia remaja dan dewasa memiliki fungsi di antaranya untuk rekreasi, memperoleh persahabatan tanpa menikah, memperoleh status, sosialisasi, eksperimentasi seksual, serta memperoleh keintiman.

 

Di antara banyak fungsi tersebut, fungsi lain yang dikemukakan adalah bahwa pacaran lebih erat kaitannya dengan perilaku seksual. Walaupun sempat merasa kurang yakin dengan penjelasan tersebut, fakta yang saya temui ternyata cukup mencengangkan. Artikel yang dimuat Kompas 28 Januari 2005 dengan judul ”40 % kawula muda ngeseks di rumah” mengungkap bahwa 474 remaja dengan usia 15-24 tahun yang menjadi partisipan penelitian 44 % diantaranya mengaku telah melakukan hubungan seksual sebelum berusia 18 tahun. Mereka yang melakukan hubungan seksual 85 % diantaranya melakukan dengan pacarnya, dan sebanyak 36 % menyatakan bahwa mereka mengenal pasangannya kurang dari enam bulan. Adapun penelitian ini dilakukan di wilayah Jakarta dan sekitar, Bandung, Surabaya, dan Medan.

 

Berkaitan dengan perilaku seksual, dalam berpacaran sendiri perilaku seksual dapat dikategorikan menjadi 10 perilaku, yaitu: 1) pegangan tangan, 2) berangkulan, 3) berpelukan, 4) berciuman pipi, 5) berciuman bibir, 6) meraba-raba dada, 7) meraba-raba alat kelamin, 8) menggesek-gesekan alat kelamin, 9) oral seks, dan 10) sexual intercourse. Pada umumnya, untuk mencapai sebuah tahap perilaku tertentu harus terlebih dahulu melakukan tahap sebelumnya. Sebagai contoh, untuk mencapai perilaku berciuman pipi, maka diasumsikan sebelumnya telah melakukan berpegangan tangan, berangkulan, dan berpelukan.

 

Di Indonesia sendiri, penelitian serupa pernah dilakukan tahun 2008 dengan sampel mahasiswi salah satu Universitas ternama di Indonesia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa diantara 138 partisipan, perilaku seksual yang paling banyak dilakukan adalah berciuman bibir dengan persentase sebesar 57 persen. Adapun waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk bisa mencapai perilaku seksual dalam berpacaran tersebut adalah 4, 4 bulan. Untuk yang melakukan perilaku seksual dalam berpacaran sexual intercourse, waktu rata-rata yang diperlukan adalah 10, 1 bulan dengan persentase yang melakukan sebesar 6, 5 % dari 138 partisipan.

 

Dari penelitian di atas juga menjelaskan bahwa yang mempengaruhi aktivitas perilaku seksual dalam berpacaran selain lama berpacaran adalah frekuensi pengalaman dalam berpacaran. Sebagai contoh, seorang yang pernah berpacaran sebanyak 10 kali memiliki kecendrungan yang lebih tinggi untuk melakukan perilaku seksual dalam berpacaran dibandingkan oran lain yang hanya 5 kali berpacaran.

 

Berbagai teori yang membahas aktivitas perilaku seksual memang mencoba menjelaskan banyak alasan mengenai apa yang menyebabkan aktivitas seksual itu terjadi. Mengingat usia partisipan dalam penelitian tersebut dapat dikategorikan remaja akhir yang cukup banyak melakukan aktivitas dengan teman sebaya, maka faktor tersebut tidak dapat dikesampingkan. Penelitian menunjukkan individu yang aktif secara seksual akan memiliki teman yang juga aktif secara seksual. Meskipun demikian, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai perilaku seksual dalam berpacaran, maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan perlu ditingkatkan kewaspadaan seiring dengan meningkatnya periode dan frekuensi pengalaman berpacaran.

 

Nova Ariyanto Jono

 

Sumber:

Ariyanto, N. (2008). Hubungan citra tubuh dengan perilaku seksual dalam berpacaran pada remaja putri. Depok: F. Psi UI.

 

Damayanti, R. (2007). Peran biopsikososial terhadap perilaku berisiko tertular hiv pada remaja slta di DKI Jakarta. Jakarta: FKM UI.

 

Duvall, E.M., & Miller, B.C. (1985). Marriage and Family Development (6th edition). New York: Harper & Row.

 

Newcomb, M.D., Huba, G.J., & Bentler, P.M. (1986). Determinants of Sexual and Dating Behavior Among Adolescent. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 50, No. 2,428-438. January 18, 2008. ABI/INFORM Global (APA) database.

 

Gambar diambil di sini