Kenapa bisa suka?

X: Iyaaa, gimana, gw cocok banget sih sama dia, sama-sama suka musik, nonton, yaa akhirnya jadian deh

Y: ooh gitu, waktu itu sih gw sama cowo gw karena cowo gw baik bangeet, caring, perhatian lah

Diskusi di atas, merupakan cuplikan dari percakapan dua remaja yang secara tidak sengaja saya dengar. Walaupun tidak sesingkat itu, mereka juga membicarakan tempat romantis untuk berpacaran, dan hal yang telah dilakukan oleh pacar mereka untuk menunjukkan rasa sayangnya. Sambil berlalu, saya tersenyum mengingat kuliah psikologi sosial. Saat itu sang dosen menjelaskan proses psikologis bagaimana seorang bisa tertarik satu dengan lainnya.

Pembicaraan seputar asmara memang selalu ada di sekitar kita. Seperti yang dibicarakan dua remaja di atas, saat mendengar kesamaan, faktor pertama similarity langsung muncul di kepala saya. Dengan kesamaan, maka proses komunikasi yang merupakan unsur penting dalam menjalian asmara menjadi lebih mudah. Hal lain yang menarik dari faktor ini adalah bahwa kesamaan juga muncul pada aspek fisik. Bagaimana seseorang yang bertubuh tinggi, memiliki kemungkinan lebih besar untuk juga menyukai seseorang dengan tinggi fisik seperti dirinya. Seseorang yang berkulit gelap akan besar kemungkinannya untuk lebih menyukai seseorang yang juga berkulit gelap. Oleh karena itu, wajar jika seseorang yang menarik, cantik, tampan, akan menyukai orang yang juga tampan, atau cantik menarik seperti dirinya.

Faktor kedua yang berpengaruh di hubungan asmara, adalah proximity atau kedekatan. Sampai saat ini saya masih merasa kedekatan yang dimaksud adalah kedekatan secara fisik. Itulah mengapa sebabnya saya menemukan bagaimana seorang yang sering berada di kelas yang sama, satu kantor, satu perkumpulan, bisa menemukan atau merasakan hubungan asmara. Kedekatan tersebut memberikan kita kemampuan untuk memprediksi apa yang akan dilakukan orang lain. Dengan mampu memprediksi, individu akan memiliki perasaan nyaman karena dapat memiliki gambaran apa yang akan terjadi selanjutnya.

Faktor ketiga adalah chemistry of love. Saya memang tidak punya data berapa banyak pasangan yang mengalami chemistry seperti itu, tapi berdasarkan pengamatan sederhana, tidak banyak pasangan yang langsung sayang atau jatuh cinta pada pandangan pertama. Penjelasan ilmiah tentang jatuh cinta pada pandangan pertama ini berkaitan dengan norepinephrine, dopamin, dan phenylethylamine (PEA) yang menghasilkan efek seperti senang, gembira. Jangan lupakan fakta dan teori lain yang menjelaskan bahwa individu yang berpenampilan menarik akan lebih disukai.

Faktor lain yang ada dalam sebuah hubungan adalah reciprocity. Penjelasan singkat yang saya buat waktu itu adalah: β€œsaya suka anda karena anda suka saya”. Individu akan bereaksi positif terhadap rayuan dan pujian yang dilayangkan kepada dirinya. Inilah yang muncul di kepala saya saat mendengar remaja putri yang kebetulan saya dengan pembicaraannya berkata, β€œgw sayang cowo gw karena cowo gw baik bangeet, caring, perhatian lah”. Mungkin faktor yang terjadi padanya adalah reciprocity.

Prioritas setiap orang untuk memilih pasangan memang tidak sama, beberapa mengedepankan persamaan sehingga komunikasi lancar, beberapa jatuh cinta pada pandangan pertama, beberapa menganggap kenyamanan merupakan hal yang paling penting. Memang tidak ada yang pasti dari penjelasan hubungan asmara, tapi jika tidak bisa melihat hanya dari satu faktor,lihatlah keseluruhan faktor yang ada untuk mencoba menjelaskan proses asmara yang rumit tersebut.

 

Nova Ariyanto Jono

 

Sumber:

Baron, R, & Byrne, D. 2004. Social Psychology. USA: Pearson

 

Crooks, R., & Baur, K. (1999). Our Sexuality (7th ed.). California: Brooks/Cole Publishing Company.

Gambar diambil di sini