Hubungan Romantis via Internet

Internet dengan segala kemudahannya memang banyak membantu kehidupan sehari-hari, tidak terkecuali dalam hubungan asmara. Saat ini cukup banyak pasangan yang berkenalan dan memiliki kisah cinta melalui internet.

Penelitian menunjukkan bahwa pada dasarnya semua individu memiliki kecenderungan untuk mencari reward yang positif dalam menjalin sebuah hubungan. Jika usaha yang dilakukan tidak sebanding dengan reward yang diterima, maka biasanya hubungan tersebut akan berakhir. Hal tersebut tidak hanya terjadi di dunia nyata, di dunia mayapun hal tersebut berlaku. Oleh karena itu, hubungan yang terjalin via internet tidak jauh berbeda dengan yang terjalin di dunia nyata.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pasangan yang menjalin hubungan melalui internet memiliki tingkat keintiman serta kepercayaan yang lebih besar dibandingkan pasangan yang berhubungan di dunia nyata. Hal tersebut juga didukung oleh penelitian yang menjelaskan bahwa pengguna media internet menunjukkan tingkat self-disclosure atau tingkat keterbukaan yang tinggi kepada pasangan online-nya. Hal tersebut bisa saja muncul dengan anggapan bahwa akan lebih mudah untuk kita menceritakan sesuatu kepada orang asing yang tidak akan kita temui.

Meskipun demikian, terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa hubungan yang dimulai via internet kebanyakan tidak bertahan lama. Sebagai contoh, 70 % pasangan di Australia yang memulai hubungannya via internet hanya bertahan selama beberapa bulan. Sedangkan di Italia, jumlah tersebut meningkat menjadi 80 % saat pasangan melakukan ‘kopi darat’ atau bertemu dengan pasangan internetnya. Sayang sekali saya tidak bisa menemukan studi yang menjelaskan hal tersebut di Indonesia.

Hal lain yang saya temukan adalah mengenai karakteristik dari mereka yang memulai hubungan via internet. Penelitiannya di Italia yang melibatkan pria dan wanita usia 16 hingga 34 tahun menemukan bahwa 54% dari individu yang memulai hubungan hubungan via internet adalah pelajar dan 32% dari mereka merupakan pekerja. Hampir seluruh partisipan pernah menjalani pendidikan di SMA. Latar belakang mereka pun bervariasi, dari berbagai kelas sosial dan berbagai level pekerjaan. Empat puluh persen di antara mereka masih melajang (single), 38 % sudah bertunangan, tinggal bersama pasangan, menikah, atau seudah bercerai. Jika selama ini ada pendapat yang menyatakan bahwa orang-orang yang menggunakan internet untuk komunikasi adalah orang-orang yang ‘kuper’ dan tidak punya teman, pada kenyataannya 60% dari mereka memiliki banyak teman dan hanya 8 % dari mereka yang tidak memiliki banyak teman.
Seperti tulisan di awal tulisan ini, tidak bisa dipungkiri bahwa internet memang dapat membantu kehidupan sehari-hari tidak terkecuali dalam hubungan asmara. Namun demikian, individu juga harus berhati-hati dalam menggunakannya. Tidak terkecuali dalam berhubungan romantis via internet.

 

Nova Ariyanto JoNo
Sumber:
Pornsakulvanich, V., Haridakis, P., & Rubin, A.M. 2008. The influence of dispositions and Internet motivation on online communication satisfaction and relationship closeness. Computers in Human Behavior 24 (2008) 2292–2310
Scramaglia, R. 2002. Love and the web. European Review, Vol. 10, No. 3, 317–338
Whitty, M.T. 2008. Liberating or debilitating? An examination of romantic relationships, sexual relationships and friendships on the Net. Computers in Human Behavior 24 (2008) 1837–1850