Hubungan Putus Nyambung

“Menurut kalian bagus ato gak seh pacaran putus nyambung? jujur..aku sering bgt pacaran putus nyambung dengan cowok aku..tapi aku jadi merasa dalam hubungan kami sudah tidak berkualitas seperti dulu..”

(sumber dirahasiakan oleh penulis)

 

Berdasarkan pengamatan sederhana yang dilakukan penulis, kutipan seperti di atas merupakan satu dari banyak permasalahan yang tampaknya banyak dihadapi oleh pasangan, yaitu putus nyambung.

 

Sebelum membahas lebih jauh, definisi pacaran putus nyambung adalah hubungan antar dua individu dimana keduanya berharap untuk terus menjalin hubungan romantis (berpacaran) secara permanen namun sulit untuk menjalankannya dikarenakan adanya konflik yang berkepanjangan.

 

Berbagai alasan melatarbelakangi putus nyambung. Namun demikian, alasan utamanya adalah pasangan memiliki satu kualitas yang disukai, namun demikian di saat yang bersamaan pasangan memiliki satu hal yang sangat tidak disukai seperti tidak dapat dipercaya ataupun hal lainnya. Kombinasi kedua hal tersebut yang biasanya menyulitkan individu untuk memilih melanjutkan hubungan tersebut atau tidak.

 

Untuk pasangan yang mengalami putus nyambung, dijelaskan bahwa pada umumnya masing-masing individu mengetahui bahwa hubungan yang dijalankan bukanlah hubungan yang sehat yang layak diperjuangkan. Namun demikian, saat dihadapkan dengan kesepian dan rendahnya rasa percaya diri (akibat berakhirnya hubungan), pasangan tersebut akhirnya kembali rujuk.

 

Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pada umumnya pasangan putus nyambung putus selama satu hingga dua bulan untuk kemudian rujuk kembali. Setiap kali pasangan rujuk pun, masing-masing individu berharap bahwa kebahagiaan yang pernah mereka rasakan kali ini akan bertahan lebih lama.

 

Salah satu cara yang dilakukan adalah mencoba ‘mengubah’ sesuatu yang tidak disukai dari pasangannya. Dengan hilangnya sikap yang tidak disukai tersebut, diharapkan kebahagiaan yang konsisten dapat dicapai. Namun demikian, mencoba mengubah pasangan biasanya merupakan usaha yang sia-sia.

 

Sebuah penelitian di luar Indonesia menemukan bahwa 60% individu yang berpacaran pernah mengalami putus nyambung. 40% di antaranya bahkan mengalami putus nyambung lebih dari satu kali. Tingginya angka individu yang mengalami putus nyambung lebih banyak dialami oleh remaja serta dewasa muda. Hal tersebut dikarenakan pada kedua jenjang tersebut, salah satu tugas utama individu adalah belajar membentuk, menjaga, dan mengakhiri dengan baik hubungan asmara serta hubungan seksual. Berkurangnya angka putus nyambung di individu dewasa dikarenakan pada masa tersebut, individu lebih mencari, atau membutuhkan, pasangan untuk jangka panjang.

 

Berdasarkan penjelasan di atas, individu berusia remaja atau dewasa muda dapat berpendapat bahwa pada dasarnya hubungan putus nyambung merupakan hal yang wajar. Namun demikian, perlu diketahui bahwa pasangan yang putus kemudian rujuk memiliki tingkat kebahagiaan hubungan serta tingkat komitmen yang lebih rendah. Selain itu, pasangan tersebut juga akan mengalami lebih banyak konflik, bahkan menjadi lebih agresif terhadap pasangan. Penelitian lebih lanjut menjelaskan bahwa pada akhirnya, rendahnya kebahagiaan hubungan serta banyaknya konflik merupakan alasan utama pasangan putus nyambung menjadi putus untuk selamanya.

 

Beberapa cara dapat digunakan untuk menentukan apakah sebaiknya melanjutkan hubungan atau tidak, yaitu:

  • Bayangkan bahwa perilaku yang tidak disukai dari pasangan akan semakin memburuk. Apabila pasangan tidak dapat dipercaya, bayangkan bahwa perilaku tersebut semakin ‘menjadi-jadi’. Apabila benar terjadi, apakah Anda tetap yakin mampu menerima pasangan?
  • Mencari pendapat dari pihak ketiga yang objektif yang tidak pernah mendengar sebagian cerita yang pernah Anda atau pasangan alami. Namun demikian, Anda juga perlu menceritakan  pengalaman secara objektif.
  • Cari tahu apa tujuan Anda. Apakah Anda mengharapkan hubungan jangka panjang? Jika Iya, buatlah hal apa saja yang diharapkan dari pasangan untuk mendukung harapan tersebut. Komunikasikan hal-hal tersebut dengan pasangan. Apabila hal-hal tersebut tidak dapat dipenuhi, maka sebaiknya akhiri hubungan secara permanen.

 

 

Nova Ariyanto Jono

 

Sumber:

Halpern-Meekin, S., Manning, W.D., Giordano, P.C., & Longmore, M.A. 2012. Relationship Churning in Young Adulthood. Journal of Adolescent Research0743558412464524.

 

Svoboda, E. 2008. Domestic Drama: On-Again, Off-Again, what drives copules to repeatedly break up and the make up?. Diambil secara online dari http://www.psychologytoday.com/articles/200803/domestic-drama-again-again pada tanggal 13 Mei 2013.

Gambar diambil di sini