Perceraian dan Dampaknya Terhadap Hubungan Romantis Anak

“Jumlah perceraian di Indonesia semakin meningkat. Data Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (Ditjen Badilag MA), kurun 2010 ada 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian ke Pengadilan Agama se-Indonesia. Angka tersebut merupakan angka tertinggi sejak 5 tahun terakhir…” (Detiknews.com)

Suka atau tidak, saat ini kita banyak melihat mendengar (atau bahkan merasakan) perceraian di sekitar kita. Kutipan artikel di atas menggambarkan tingginya perceraian yang ada di Indonesia. Lebih lanjut dijelaskan berbagai alasan yang melatar belakangi kasus perceraian yang ada. Dari sekian banyak permasalahan secara garis besar alasan perceraian di Indonesia disebabkan oleh tiga faktor, yaitu: 1.) Ketidakharmonisan rumah tangga (32,2 %);  2) Masalah ekonomi (23,8 %), dan 3) Cemburu (3,5 %).

Berbagai dampak perceraian telah banyak dijelaskan sebelumnya dan diketahui bahwa efek terbesar perceraian terjadi pada anak. Efek tersebar tersebut juga sebagian besar efeknya merupakan efek negatif

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak yang orangtuanya bercerai besar kemungkinan akan memiliki hubungan romantis yang buruk di masa yang akan datang. Ketika berpacaran, mahasiswa yang menjadi sample penelitian,  menunjukan bahwa durasi mereka berpacaran biasanya hanya bertahan dibawah satu tahun. Bahkan hasil penelitian menunjukkan bahwa anak dari yang orangtua bercerai memiliki kecendrungan yang lebih tinggi pula untuk bercerai ketika mereka menikah.

Sebuah penelitian menjelaskan lebih dalam tentang hubungan romantis pada anak yang orangtuanya sering berselisih ataupun yang orangnya bercerai. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa mereka lebih aktif secara seksual di usia yang lebih muda, lebih banyak memiliki pasangan seksual, memiliki kecendrungan yang lebih tinggi untuk tinggal bersama tanpa menikah dan menikah pada usia yang lebih muda.

Tidak hanya anak dengan orang tua yang bercerai, anak dengan orang tua yang sering berselisih juga mengalami berbagai permasalahan yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Sebuah penelitian bahkan menunjukkan efek yang lebih buruk ditemukan pada anak yang tumbuh di keluarga dengan konflik yang berkepanjangan dibandingkan anak yang orangtuanya mengalami perceraian.

Penelitian menunjukkan bahwa anak yang orangtuanya sering berselisih memiliki kecendrungan yang lebih tinggi untuk mengalami masalah kepercayaan diri. Masalah kepercayaan diri tersebut juga akan terus terjadi hingga anak beranjak dewasa. Selain masalah kepercayaan diri, masalah lain yang muncul akibat perselisihan orangtua adalah rendahnya prestasi sekolah, renggangnya hubungan anak dengan orangtua, dan buruknya hubungan romantis di kemudian hari.

Berbagai permasalahan yang dijelaskan di atas menunjukkan bahwa konflik orang tua sangat mempengaruhi berbagai area perkembangan anak. Bagi anak yang mengalami perceraian orang tua, jangan takut dan khawatir ketika membina hubungan romantic. Beberapa hal dapat dijadikan masukan dan pertimbangan untuk memperkecil kemungkinan tersebut, antara lain:

  • Dalam menjalin hubungan romantic dengan lawan jenis, keterbukaan adalah hal yang penting. Usahakan agar selalu terbuka terhadap pasangan.
  • Dalam menjalin hubungan, kurangi ego. Keegoisan diri sendiri yang membuat kita mengambil keputusan yang tidak mempertimbangkan faktor-faktor lain.
  • Dalam menghadapi masalah ketika membina hubungan, bicarakan dengan kepala dingin saat keduanya dalam keadaan tenang. Agar solusi yang dihasilkan dapat lebih objektif dan mempertimbangkan banyak aspek.

Di sisi lain, untuk orangtua hal-hal yang dapat diperhatikan adalah:

  • Berikan kesempatan pada anak untuk mengungkapkan perasaan dan pemikirannya terhadap perceraian orang tua agar anak merasa bahwa orang tua memperhatikannya.
  • Menjalin hubungan dan komunikasi dengan mantan pasangan anda agar memperlihatkan pada anak bahwa hubungan antara kedua orang tua berjalan dengan baik walaupun telah berpisah. Dengan memperlihatkan hubungan baik tersebut menghindari anak bersifat negatif terhadap perkawinan dan kedua orang tuanya.
  • Tetap melakukan kegiatan rutin dengan anak seperti mengantar anak ke sekolah atau mengajak pergi ketika libur sekolah Walaupun orang tua telah bercerai bukan berarti kebiasaan-kebiasaan tersebut hilang.

 

Sumber:

Ensign, J., Scherma, A. & Clark, J.J. 1998. The relationship of family structure and conflict to levels of intimacy and parental attachment in college studentAdolescence; Fall 1998; 33, 131; ProQuest pg. 575.

Knox, D., Zusman, M., & ;DeCuzzi, A. 2004. The Effect Of Parental Divorce On Relationships With Parents And Romantic Partners Of College Students. College Student Journal; Dec 2004; 38, 4; ProQuest Psychology Journals pg. 597

Saputra, A. 2011. Tingkat Perceraian di Indonesia Meningkat. Diambil secara online dari http://www.detiknews.com/read/2011/08/04/124446/1696402/10/tingkat-perceraian-di-indonesia-meningkat?n990102mainnews pada tanggal 20 Desember 2011.