Olahraga dan Dampaknya Terhadap Psikologis Anak

“Sekolah sepak bola (SSB) berlisensi klub Eropa semakin menjamur di Indonesia. Sebut saja Arsenal ataupun Barcelona yang sudah mendirikan sarana serta prasarana untuk mendidik anak-anak Indonesia. Dan dalam waktu dekat, Chelsea pun akan mengikuti jejak beberapa klub itu … “ dikutip dari http://duniasoccer.com/

Sebagai individu yang tertarik dengan dunia olahraga, kutipan di atas dapat dikatakan menggembirakan penulis. Dengan semakin banyaknya sekolah sepakbola penulis berharap kualitas sepakbola Indonesia dapat semakin baik.

Di sisi lain, penulis juga menangkap fenomena bahwa saat ini semakin banyak orang tua yang memperkenalkan anaknya kepada dunia olahraga. Meskipun sebagian besar alasan tersebut dilatarbelakangi alasan kesehatan, hanya sedikit yang mengetahui bahwa olahraga dapat membantu perkembangan anak secara psikologi. Tertarik dengan hal tersebut, penulis kemudian mencoba menemukan literatur terkait olahraga dan psikologi anak.

Sebagaimana diketahui, olahraga memang dapat membantu anak memahami kemampuan serta perkembangan tubuhnya, khususnya apabila anak tersebut berusia kurang dari delapan tahun. Ketika anak memasuki kisaran usia 8 tahun, anak telah mampu mengenal konsep olahraga sebagai kompetisi yang menghasilkan kemenangan ataupun kekalahan. Olahraga pada tahap ini tidak hanya membantu perkembangan anak, namun juga mampu memfasilitasi anak untuk mempelajari kerjasama, ketekunan, bersabar untuk memperoleh sesuatu, motivasi berprestasi, maupun asertivitas.

Olahraga juga mampu memberikan akses sosial kepada anak. Anak yang berolahraga terbukti lebih sedikit mengalami kesepian. Lebih lanjut dijelaskan bahwa anak yang atletis cenderung dilihat lebih tinggi statusnya sehingga banyak yang kemudian dijadikan pemimpin oleh teman-temannya. Tidak hanya itu, kepercayaan diri yang dimiliki juga lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak berolahraga.

Satu hal yang menarik adalah partisipasi anak dalam olahraga juga dipengaruhi usia. Penelitian menunjukkan bahwa usia 6-11 tahun merupakan usia anak cukup aktif berolahraga. Namun kemudian partisipasi tersebut menurun seiring bertambahnya usia anak.

Beberapa hal yang diduga melatarbelakangi hal tersebut adalah adanya kejadian negatif ketika anak berpartisipasi dalam olahraga. Di antara banyak kejadian negatif yang dapat terjadi, yang paling berpengaruh terhadap anak adalah komentar orang dewasa yang bersifat destruktif. Orang dewasa yang dimaksud dapat meliputi orang tua, guru, ataupun pelatih. Lebih lanjut dijelaskan bahwa anak yang merasa terpaksa untuk terus melakukan olahraga cenderung dapat melihat dirinya sendiri sebagai individu yang kurang berharga.

Seperti hal lainnya di dunia ini, olahraga juga memiliki sisi negatif. Anak dapat melihat bahwa olahraga yang dijalaninya menjadi terlalu kompetitif ataupun terlalu kasar. Ketidaknyamanan tersebut dapat mengakibatkan stress, cedera, dan burnout pada anak. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa seiring dengan semakin berkembangnya industri olahraga kearah yang lebih komersil, orangtua/guru/pelatih dapat mengenyampingkan fungsi olahraga sebagai sarana perkembangan pendidikan maupun life skill anak.

Data-data di atas menunjukkan sisi positif dan negatif olahraga pada anak. Apabila di sekitar anda terdapat anak yang memiliki minat pada olahraga, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan agar anak mendapatkan manfaat maksimal dari olahraga:

 

  • Jadilah contoh yang baik. Anak akan lebih berminat untuk berpartisipasi dalam olahraga apabila melihat orangtua juga berpartisipasi.
  • Biarkan anak memilih olahraga yang diminati. Mempertimbangkan bahwa anak tersebut yang akan menjalani latihan, bertanding dan berkompetisi maka pilihan anak akan olahraga tersebut sangatlah penting.
  • Pastikan komentar yang diberikan (oleh orangtua/guru/pelatih) adalah komentar positif. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang menerima komentar positif memiliki waktu partisipasi yang lebih lama dalam olahraga dibanding anak yang menerima komentar netral maupun negatif. Adapun kemudian, anak yang terus berolahraga hingga ketahap remaja terbukti memiliki tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi serta lebih mampu beradaptasi di lingkungan sosial.
  • Hindari olahraga sebagai sarana untuk ‘menitipkan anak’. Beberapa orangtua mengenalkan anaknya kepada olahraga agar orangtua memiliki waktu luang di rumah. Orangtua sebaiknya mendampingi anak ketika anak berolahraga.
  • Tekankan bahwa peningkatan diri lebih penting dibandingkan kemenangan. Orangtua yang memberikan komentar positif terkait usaha peningkatan diri dapat membantu anak berkembang untuk terus berkembang. Pengalaman bahwa perkembangan positif dihargai oleh lingkungan tersebut dapat terus dikenang oleh anak dan dapat berguna pada hidupnya.
  • Jalin komunikasi dua arah. Orangtua sebaiknya menyampaikan apa yang diharapkan kepada anak (usaha peningkatan diri, bersenang-senang, dsb) dan minta anak untuk menyampaikan apa yang dirasakan saat berolahraga.
  • Dahulukan prioritas anak. Anak mungkin tidak selamanya menyenangi aktivitas olahraga, oleh karena itu pastikan anak mampu menyampaikan apabila dirinya sudah tidak tertarik berolahraga.

 

Nova Ariyanto Jono

Sumber:

Brady, F. 2004. Children’s Organized Sports: A DEVELOPMENTAL PERSPECTIVE.  Journal of Physical Education, Recreation & Dance; Feb 2004; 75, 2; ProQuest pg. 35

Eppright, T.D., Sanfacon, J.A., Beck, N.C., & Bradley, J.S. 1997. Sport Psychiatry in Childhood and Adolescence: An Overview. Child Psychiatry and Human Development, Vol. 28(2). Human Sciences Press, Inc.

Findlay, L.C. & Coplan, R.J. 2008. Come out and play: shyness in childhood and benefits of organized sports participation. Canadian journal of behavioral sciencel Jul 2008 40, 3; PsycARTICLES pg 153.

Irawan. 2013. Chelsea Juga Akan Buka Sekolah Sepak Bola di Indonesia. Diambil secara online dari http://duniasoccer.com/Duniasoccer/Indonesia/Varia-Warta/Chelsea-Juga-Akan-Buka-Sekolah-Sepak-Bola-di-Indonesia pada tanggal 22 November 2013

Smoll, F. & Smith, R.E. 2013. Youth Sports 101: Top 9 Tips for Moms and Dads. Diambil secara online dari http://www.psychologytoday.com/blog/coaching-and-parenting-young-athletes/201304/youth-sports-101-top-9-tips-moms-and-dads pada tanggal 23 November 2013.